Belajar Kepemimpinan dari Sebuah Magnet

   Pernahkah kita menggunakan magnet dalam kehidupan sehari-hari? Magnet seperti yang kita kenal memiliki kekuatan untuk menarik benda-benda yang terbuat dari besi dan semacamnya. Seolah-olah, dalam diri magnet ada daya tarik yang bisa menggerakkan benda lain. Inilah kelebihan yang dimiliki oleh magnet. Ia memiliki kemampuan bisa menggerakkan dan memiliki daya tarik untuk benda-benda feromagnetik di sekitarnya. Benda feromagnetik adalah benda yang bisa ditarik dengan kuat oleh magnet. Seperti benda-benda berbahan dasar besi dan beberapa logam lainnya.Berbicara soal magnet bisa menarik dan menggerakkan benda-benda sekitar, tak berbeda dengan fungsi seorang pemimpin. Pemimpin adalah sosok yang bisa menarik dan menggerakkan orang-orang yang ia pimpin.           Pemimpin tak akan berhasil jika tak bisa menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya. Logikannya seperti ini, kalau kita ingin membawa organisasi ataupun lembaga yang kita pimpin untuk maju, namun anggota kita acuh dan tak ada yang peduli, maka program ataupun kegiatan-kegiatan yang kita lakukan tak akan didukung oleh mereka. Mungkin, program hanya terhenti pada pekerjaan-pekerjaan sebagian elemen yang peduli saja dengan arahan kita.Hal ini wajar karena anggota kita tak peduli dan tak tertarik dengan arahan kita. Sehingga sudah selayaknya, pemimpin harus memiliki kekuatan untuk menarik dan bisa mengakselerasikan segala potensi anggotannya untuk mencapai misi dan visi organisasi ataupun lembaga yang ia pimpin.         Permasalahan yang muncul adalah, bagaimana kita bisa menjadi seorang pemimpin yang bisa menarik rakyatnya dan menggerakkan mereka untuk bersinergi mencapai tujuan. Dalam konteks ini, kita bisa belajar dari sebuah besi (bahan dasar magnet) dalam berproses menjadi sebuah magnet. Tentu, untuk memiliki kemampuan bisa menarik dan menggerakkan benda-benda di sekelilingnya bukanlah hal yang mudah dan instant bagi sebuah magnet. Besi sebagai bahan dasar magnet, menempuh proses yang panjang untuk bisa menjadi sebuah magnet yang bisa menarik benda-benda lainnya.       Kalau kita mempelajari lebih dalam, ada 3 cara untuk membuat besi menjadi bersifat sebagai magnet
1. Membuat Magnet dengan Cara Menggosok
Caranya besi digosok dengan salah satu ujung magnet tetap. Arah gosokan dibuat searah agar magnet elementer yang terdapat pada besi letaknya menjadi teratur dan mengarah ke satu arah.
2. Membuat Magnet dengan Cara Induksi
Besi dan baja dapat dijadikan magnet dengan cara induksi magnet. Besi dan baja diletakkan di dekat magnet tetap. Magnet elementer yang terdapat pada besi dan baja akan terpengaruh atau terinduksi magnet tetap yang menyebabkan letaknya teratur dan mengarah ke satu arah.
3. Membuat Magnet dengan Cara Arus Listrik
Selain dengan cara induksi, besi dan baja dapat dijadikan magnet dengan arus listrik. Besi dan baja dililiti kawat yang dihubungkan dengan baterai. Magnet elementer yang terdapat pada besi dan baja akan terpengaruh aliran arus searah (DC) yang dihasilkan baterai.
Dari ketiga metode diatas, sebenarnya bisa kita ambil hikmah. Bahwa untuk berproses menjadi sebuah magnet, ada beberapa hal yang harus dilalui. Diantarannya adalah sebuah besi harus dekat dengan besi yang sudah memiliki kekuatan magnet. Filosofi yang terbangun sebagai seorang pemimpin adalah kita harus berani dekat dan mendekat kepada orang-orang yang kita pimpin.Sebagai seorang pemimpin, harus mau untuk turun tangan dan terjun ke lapangan untuk merasakan kondisi yang dirasakan orang yang dipimpinnya. Dari sinilah seorang pemimpin akan mengetahui apa yang dibutuhkan rakyatnya, kemudian akan dicarikan pemecahannya.         Secara kultural dan emosional, kedekatan antara rakyat dan pemimpin akan erat. Tak kan ada lagi batas penyekat di antara mereka.Inilah salah satu indikasi awal. Di kemudian hari, rakyat akan mudah digerakkan bahkan senang diajak bekerjasama. Karena pemimpin merekapun mau memahami, mencarikan dan mengusahakan solusi terhadap apa yang mereka butuhkan.Kemudian, hal kedua yang bisa kita  teladani untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dari proses besi menjadi magnet adalah konsisten terhadap apa yang ia yakini. Sebuah besi akan menjadi magnet jika dalam prosesnya dilakukan dengan searah secara terus menerus. Baik untuk proses pembuatan menggosok maupun dengan dialiri arus listrik.         Dalam pembuatannya, besi harus digosok secara secara searah agar bisa membentuk sebuah magnet. Begitupun yang melalui arus listrik, arus listrik yang digunakan haruslah jenis DC atau arus searah tentu dilakukan secara terus menerus pula.Dari proses ini, kita bisa belajar bahwa untuk menjadi seorang yang memiliki arti di tengah masyarakat luas yang bisa menarik dan menggerakkan masyarakat diperluakan sikap konsisten dalam hidupnya. Jangan sampai sebagai seorang pemimpin penggerak kita mudah terombang-ambing pada suatu kondisi. Hal ini membahayakan karena pengikut kita akan bingung untuk mengikuti kita.          Inkonsistensi inilah yang harus senantiasa kita hindari baik secara sikap maupun tindakan. Apalagi, sebagai seorang pemimpin yang memiliki banyak pengikut.Akhirnya, untuk menjadi seorang pemimpin yang bisa menarik dan menggerakkan kita perlu  belajar pada proses pembuatan besi menjadi magnet. Berani dekat dengan orang yang ia pimpin dan konsisten dalam sikap maupun tindakan. Insya Allah, jika kedua sikap ini senantiasa dipegang oleh seorang pemimpin, maka ia akan bisa menarik dan menggerakkan rakyatnya ataupun orang yang ia pimpin ibarat seorang magnet yang menggerakkan dan menarik besi-besik di sekitarnya.Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/05/09/50995/menjadi-pemimpin-penggerak-besipun-berproses-untuk-menjadi-magnet/#ixzz31EgoRog6 Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Iklan

ADAB TERTAWA

Dalam wasiatnya Imam Hasan Al-Banna menasihatkan hendaknya seorang muslim tidak larut dalam tawa, karena hati yang tenang dan hidup dengan iman akan selalu inagt akan keagungan Allah, dipenuhi oleh rasa takut serta selalu berharap kepadanya. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang tertawa. Tertawa mengejek termasuk akhlak orang-orang kafir dan orang munafik, mereka menertawakan orang-orang yang sungguh-sungguh beriman terhadap ayat-ayat yang telah diturunkan oleh Allah swt kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

Beberapa ayat yang meyebutkan tentang tertawa antara lain: “Sesungguhnya sekelompok hambaku mengatakan wahai Tuhan kami, kami telah beriman maka ampunilah kami dan kasihanilah kami, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan yang paling Kasih. Lalu kalian mengejek sehingga kalian lupa mengingat-Ku, dan kalian dulu menertawakan mereka, hari ini aku ganjar mereka karena telah bersabar, sesungguhnya merekalah orang-orang yang beruntung.”

(QS.AL-Mukminun:109-111).

“Sesungguhnya para pendosa itu, menertawakan orang-orang yang beriman, mereka mengerlingkan mata (mengejek}. (Al-Muthafiffin:29)

Al-Qur’an mengategorikan tertawa sebagai jarimah (criminal) seperti kisah fir’aun dan kaumnya ketika dating kepada mereka utusan Allah. Allah swt berfirman : “Ketika Nabi itu dating membawa ayat-ayat Kami mereka menertawakannya.”

(QS.Az-Zukhruf: 47)

Tidaka ada perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang haramnya tertawa seperti yang disebutkan diatas. Tidak semua tertawa itu dilarang dan tidak semuanya diperbolehkan. Tertawa yang diperbolehkan adalah tertawa yang terlalu sering dan melampaui batas. Hal ini tergolong menjadi permainan yang melenakan dari kesungguhan dalam berbagai hal.

Tertawa yang diperbolehkan adalah tertawa yang wajar dan tidak terbahak-bahak, selama itu menjadi tuntutan dan hajat, karena itu merupakan reakssi alamiah, dan juga merupakan karakter manusia yang tidak mampu menahan atau menolaknya. Contoh tertawa yang baik dalam hal ini adalah para Nabi dan Rasul Allah. Banyak riwayat yang menyatakan bahwa Nabi kita Muhammad saw tertawa, tapi tertawanya tidak melampaui batas atau hanya tersenyum saja. Senyum Rasulullah yang paling maksimal adalah nampak gigi gerahamnya. Bahkan dulu Rasulullah saw adalah orang yang paling banyak senyum dan wajahnya berseri-seri.

Inilah perangai yang baik nan indah yang dipakai oleh orang-orang yang muru’ah (punya harga diri) untuk menghiasi diri mereka. Karena dengan memperbanyak tawa dan berlebihan didalamya merupakan tingkah laku yang menyimpangdan melenyapkan charisma seorang mukmin dan bisa menurunkan derajat dikalangan manusia.

Disebutkan dalam suatu riwayat bahwa Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati dan menghilangkan charisma seorang mukmin.” Berlebih-lebihan dalam tertawa merupakan perbutan hina dan dilarang syara’. Maka kita harus menjauhi sikap tertawa yang berlebihan.

DZIKRUL MAUT

Mati merupakan salah satu kepastian yang akan dialami oleh setiap manusia.Allah swt. Berharap agar manusia jangan sampai menghadapi kematian kecuali dalam keadaan tunduk dan patuh kepada-Nya. Karena itu bagi kita, tidaklah terlalu penting kapan kita akan mati, tapi yang penting adalah sejauh mana persiapan kita dalam menghadapi kematian itu dan persiapan itu tidak lain dan tidak bukan kecuali amal yang soleh sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu kita harus selalu ingat kepada mati (dzikrul maut) agr 24 jam setiqap harinya dalam kehidupan kita selalu disi dengan hal-hal yang bermanfaat dan bearnilai amal soleh. Dengan deemikian dzikrul maut akan merangsang kita untuk memperbanyak amal soleh dan membuat kita tidak suka menunda-nunda pelaksanaan amal yang akan kita kerjakan..
Agar kita menjadi orang yang selalu ingat kepada kematian paling tidak ada lima dzikrul maut yang harus kita tempuh dalm kehidupan ini. Pertama, menjenguk orang sakit guna menghibur, mendoakan dan memberikan nasihat kepada orang yang sakit agar lebih sabar dan teguh dalm menghadapi ujian dari Allah swt. Berupa penyakit yang diderita. Dengan menjenguk orang sakit kita akan mendapatkan hikmah yaitu kita menjadi semakin sadar ,melaliu pengalaman rohani betapa pentingnya sehat itu. Kita menjadi sadar masih hidup saja orang yang sakit itu sudah tidak bias melakukan apa-apa, apalagi kalau sudah mati, dan memang tidak sedikit orang yang sakit berakhir dengan kematian. Dengan menyadari pentingnya sehat maka kita semakin bertekad untuk memnfaatkan kesehatan guan mengabdi kepada Allah swt. Kalau pelajaran ini bias kita ambil, maka Allah swt akan memberikan nilai baik bagi orang yang menjenguk orang yang sakit. Rasulullah saw bersabda: ” Barang siapa yang mengunjungi orang yang sakit, maka berserulah malaikat dari langit’Engkau telah berbuat baik, baik pula perjalananmu, engakau akan mendiami rumah dalam surga.” (HR.Ibnu Majah ).
Kedua, denagan ta’ziyah atau mendatangi orang yang mati. Ta’ziyah kepada orang yang mati dimaksudkan agar kita mendoakan yang sudah mati, menghibur atau mengembirakan anggota kjeluarga yang ditinggal serta ikut mengurus jenazah khususnya memandikan, menshalatkan dan menguburkannya yang pahalanya sangat besar yang akan diberikan kepada Allah. Rasulullah bersabda; ” Cukuplah mati sebagai pelajaran (Guru) dan keyakinan sebagai kekayaan.” ( HR. Thabrani ).
Ketiga, melakukan ziarah kubur yang memang sangat dianjurkan dalam Islam. Ziarah kubur kan menyadarkan kita bahwa cepat atau lambat kita pun akan seperti orang yang berada dalam kuburan itu entah bahagia tau tidak.
Keempat,denagan memantapkan keimanan kita kepada hari kiamat atau akhirat, bukan seperti keyakinan orang-orang kafir yang tidak percaya akan adanya hari akhirat. Allah swt menyebutkan anggapan oarng kafir itu dalam firmannya :
” Dan mereka berkata, kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan didunia ini saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membianasakan kita kecuali masa, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-diga saja.” ( QS. Al-Jaatsiyah:24).
Kelima, dengan menghayati dalil-dalil kehidupan akhirat, didalam Al-Qu’an dan hadis banyak sekali dalil yang menggambarkan kenikmatan dan kesengsaraan kehidupan diakhirat. Diantara dalil tentang kesengsaraan neraka adalah:
” Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkna mereka ke dalam neraka. Setiap kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang baru, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( QS. An-Nisa :56 ).
Disamping itu Allah swt juga mnyebutkan tentang kenikmatan surga yang tentu saja ingin kita mendapatkannya. Allah swt berfirman : ” Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa adalah seperti taman yang mengalir sungai-suangi didalamnya; buahnya tak henti-hentinya sedang naunganya
( demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir adalah neraka.” (QS. Ar-Rad :35 ).
Wallahu a’lam.

Dimuat pada harian Umum Republika pada hari Kamis 8 Juni 2006.